ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE

Posted On April 1, 2010

Filed under marine ecology

Comments Dropped 3 responses

Kepustakaan :
Aufa Fadhli Pratomo.2010.ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE:Studi Kasus Konversi Lahan Hutan Mangrove Menjadi Lahan Persawahan Padi Pantai Segara Anakan di Desa Pamotan Kabupaten Ciamis. http://prince60.wordpress.com/2010/03/31/analisis-aliran-energi-dan-rantai-makanan-di-hutan-mangrove/

Budi Brilliantsyah.ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE:Studi Kasus Konversi Lahan Hutan Mangrove Menjadi Lahan Persawahan Padi Pantai Segara Anakan di Desa Pamotan Kabupaten Ciamis. http://bily2.wordpress.com/2010/04/01/analisis-aliran-energi-dan-rantai-makanan-di-hutan-mangrove/

Studi Kasus Konversi Lahan Hutan Mangrove Menjadi Lahan Persawahan Pantai Segara Anakan di Desa Pamotan Kabupaten Ciamis

Data keberadaan dan luas hutan mangrove di Kabupaten Ciamis sangat bervariasi namun dilaporkan sebagian besar berada di Desa Pamotan, dalam kawasan hutan negara yang dikelola oleh Perum Perhutani. Hutan mangrove di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis termasuk hutan produksi (HP) kelas hutan alam kayu lain tak baik untuk jati (HAKLTB), namun selama hampir 30 tahun belum dilakukan pengelolaan atau pengusahaan sebagaimana mestinya sebuah kawasan hutan sehingga terkesan sebagai lahan tidur. Konversi hutan mangrove tersebut oleh penduduk setempat menjadi lahan persawahan padi dan pemukiman dilakukan karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan semakin menurun akibat pendangkalan dan penyempitan Segara Anakan, sehingga mereka beralih profesi menjadi petani padi. Masih 40% hutan mangrove di KPH Ciamis berupa rawa atau semak belukar, namun di dalamnya telah dipenuhi patok-patok klaim tengah menghadapi bencana kepunahannya. KPH Ciamis memberi perhatian atas hutan mangrovenya setelah sebagian dikonversi oleh masyarakat setempat menjadi persawahan dan pemukiman penduduk.

Laguna Segara Anakan merupakan suatu kawasan konservasi alam, memiliki fungsi ekonomi dan ekologis, yaitu tempat pemijahan dan pembesaran ikan dan udang, serta memiliki terumbu karang dan kawasan bakau yang indah. Namun, saat ini telah terjadi pendangkalan dan penyempitan yang sangat hebat. Luas Segara Anakan yang pada tahun 1984 masih 3.000 ha, pada tahun 2003 tinggal 500 ha. Penyebab pendangkalan dan penyempitan adalah lumpur dan sampah-sampah yang terbawa oleh aliran sungai yang bermuara ke Segara Anakan.

Akibat dari pendangkalan dan penyempitan tersebut hal ini tentu saja berdampak pada fungsi ekologisnya.  Berdasarkan fenomena yang terjadi,  penduduk setempat yang pada awalnya berprofesi sebagai nelayan beralih profesi menjadi petani padi karena hasil tangkapan ikan nelayan Pamotan kian hari kian menurun sehingga penduduk setempat melakukan konservasi hutan mangrove menjadi areal persawahan padi dan pemukiman penduduk

Bila dilihat dari sisi fungsi ekologisnya, fenomena ini tentunya mengganggu aliran energi dan rantai makanan yang berlangsung di hutan mangrove. Secara umum di perairan terdapat dua tipe rantai makanan yaitu rantai makanan langsung dan rantai makanan detritus. Di ekosistem mangrove rantai makanan yang ada untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hutan mangrove merupakan sumber makanan bagi organisme air (produksi sekunder). Sehingga kelestarian hutan mangrove merupakan kunci dalam memelihara keseimbangan spesies yang merupakan bagian dari ekosistem yang penting.

Gambar 1. Rantai makanan pada ekosistem mangrove

Gambar 1. Menunjukkan rantai makanan pada ekosistem mangrove, diatas telah dijelaskan bahwa hutan mangrove merupakan penghasil detritus dan menjadikannya sumber makanan bagi organisme air. Peranan penting seperti ini tentunya menjadikan ekosistem mangrove adalah sebagai tempat pemijahan (nursery ground), tempat mencari (feeding ground), dan tempat perlindungan (shelter) beberapa organisme perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil dan amphibi (Nontji, 1993).

Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrien di dalam ekosistem mangrove dapat juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi.

Analisa aliran energi dan rantai makanan hutan mangrove yang dikonversi menjadi lahan persawahan

Fenomena yang terjadi di pantai Segara Anakan di desa Pamotan adalah konservasi lahan hutan mangrove menjadi kawasan persawahan padi yang disebabkan produktivitas tangkapan ikan nelayan setempat yang kian hari kian menurun karena terjadinya penyempitan dan pendangkalan akibat lumpur-lumpur dan sampah-sampah yang terbawa oleh aliran sungai yang bermuara di pantai Segara Anakan.

Diatas telah dijelaskan mengenai rantai makanan dan aliran energi yang terjadi pada ekosistem mangrove. Sekarang mari kita lihat bagan aliran energi dan rantai makanan di areal persawahan padi.

Gambar 2. Rantai makanan dan aliran energi di persawahan padi

Gambar 2. Menunjukkan rantai makan dan aliran energi di persawahan padi. Perlu di ketahui bahwa padi adalah produsen utama dalam rantai  makanan ini.

Berikut ini analisa penulis akibat konversi hutan mangrove menjadi persawahan padi:

Mangrove merupakan penghasil detritus yang merupakan sumber makanan bagi organisme laut terlebih lagi fungsi hutan mangrove secara ekologi adalah sebagai tempat pemijahan (nursery ground), tempat mencari (feeding ground), dan tempat perlindungan (shelter) beberapa organisme perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil dan amphibi (Nontji, 1993). Tentu saja kelestarian hutan mangrove menjadi permasalahan yang penting untuk menjaga keseimbangan spesies yang merupakan bagian dari ekosistem yang penting.

Setelah kita melihat bagan aliran rantai makanan dan aliran energi di persawahan padi, penulis menyimpulkan terjadi perubahan aliran energi dan rantai makanan secara drastis pada lahan hutan mangrove yang dikonversi menjadi persawahan padi. Hal ini tentu saja berakibat pada penurunan populasi ikan bahkan hilangnya populasi ikan yang biasanya menjadikan hutan mangrove sebagai tempat tinggal akibat konversi lahan tersebut. Hutan mangrove yang merupakan penghasil detritus dan sebagai tempat pemijahan, tempat mencari makan dan tempat perlindungan organisme perairan dan organisme terestrial kemudian hilang akibat konversi tentunya fungsi-fungsi ini tidak lagi berjalan. Hutan mangrove yang pada awalnya dengan fungsinya sebagai penghasil detritus yang merupakan sumber makanan bagi organisme perairan (produsen), lalu hilang akibat konversi menjadi areal persawahan padi. Sehingga menyebabkan terjadinya perubahan produsen dimana tanaman padi menjadi produsen. Hal ini tentu berakibat pada perubahan yang sangat besar pada berbagai tingkatan trofik.

Daftar Pustaka :

http://www.articles.myhardisk.com

http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=57

http://www.scribd.com/doc/21375964/Rantai-Makanan-Mangrove

http://puslitsosekhut.web.id/download.php?page=publikasi&sub=info&id=83

Penulis :
Aufa Fadhli Pratomo. Biasa dipanggil Fadhli atau Aufa dilahirkan 27 maret 1991 di Batam. Saat ini penulis sedang menjalani pendidikan strata 1 (S1) di Universitas Padjadjaran Bandung Program Studi Ilmu Kelautan. Penulis sangat tertarik mengenai ekosistem terumbu karang dan diving.

Budi Brilliantsyah. Saat ini penulis sedang menjalani pendidikan strata 1 (S1) di universitas Padjadjaran Bandung Program Studi Ilmu Kelautan.

About these ads

3 Responses to “ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE”

  1. ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE « DIVER'S OCEANIC

    [...] Budi Brilliantsyah.ANALISIS ALIRAN ENERGI DAN RANTAI MAKANAN DI HUTAN MANGROVE:Studi Kasus Konversi Lahan Hutan Mangrove Menjadi Lahan Persawahan Padi Pantai Segara Anakan di Desa Pamotan Kabupaten Ciamis.http://bily2.wordpress.com/2010/04/01/analisis-aliran-energi-dan-rantai-makanan-di-hutan-mangrove/ [...]

  2. rania nabila ihsan

    kok g ada contoh rantai makanan di hutan sih…!!!!!!!!

    • bily2

      itu ada gambar 1. rantai makanan pada ekosistem mangrove, ekosistem mangrove diartikan hutan mangrove/hutan bakau.
      hutan bakau pengunaan kata yang salah seharusnya hutan mangrove.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.