ENSO

Posted On April 2, 2010

Filed under oseanografi

Comments Dropped leave a response

ENSO adalah singkatan dari El Nino Southern Oscillation. Secara umum para ahli membagi ENSO menjadi ENSO hangat (El Nino) dan ENSO dingin (La Nina). Kondisi tanpa kejadian ENSO biasanya disebut sebagai kondisi normal. Referensi penggunaan kata hangat dan dingin adalah berdasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) di daerah NINO di Samudera Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur. Adapula penggunaan istilah ENSO negatif dan ENSO positif. Namun kadangkala penggunaan istilah ini tidak konsisten karena sebagian menggunakan nilai positif dan negatif berdasarkan pada harga Indeks Osilasi Selatan (IOS) sedangkan sebagian yang lain menggunakan nilai positif dan negatif berdasarkan pada harga anomali SPL. Padahal nilai IOS yang negatif berhubungan dengan nilai anomali SPL yang positif dan sebaliknya. Maka dari itu akan sering kita temukan pada beberapa artikel penggunaan istilah ENSO negatif untuk El Nino sedangkan pada artikel lainnya digunakan istilah ENSO negatif tetapi untuk menyatakan La Nina. Hal ini terjadi karena pada penggunaan pertama, nilai negatif didasarkan pada harga IOS sementara pada penggunaan kedua nilai negatif didasarkan pada harga anomali SPL di daerah NINO. Namun demikian masih banyak juga orang-orang yang lebih suka untuk tetap menggunakan istilah El Nino dan La Nina daripada istilah ENSO hangat atau ENSO positif dan ENSO dingin atau ENSO negatif.

El Nino, menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang teramati oleh para penduduk atau nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur menjelang hari natal (Desember). Fenomena yang teramati adalah meningkatnya SPL yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya. Pemberian namaEl Nino pada fenomena ini disebabkan oleh karena kejadian ini seringkali terjadi pada bulan Desember. El Nino (bahasa Spanyol) sendiri dapat diartikan sebagai “anak lelaki”. Di kemudian hari para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya SPL, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya SPL akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La Nina (juga bahasa Spanyol) yang berarti “anak perempuan”. Fenomena ini memiliki periode 3-7 tahun.

El Nino merupakan suatu gejala alam di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yaitu memanasnya suhu permukaan laut di wilayah tersebut. Pada saat yang bersamaan terjadi perubahan pola tekanan udara yang mempunyai dampak sangat luas dengan gejala yang berbeda-beda, baik bentuk dan intensitasnya. Walaupun El Nino dianggap sebagai faktor pengganggu dari sirkulasi monsun yang berlangsung di Indonesia namun pengaruhnya sangat terasa yaitu timbulnya bencana kekeringan yang meluas. Pada saat berlangsung El Nino, terjadi penguatan angin baratan di Pasifik barat daerah equator mulai dari sebelah utara Irian hingga Pasifik Tengah (Trenberth and Sea, 1987, Harrison and Larkin, 1998). Awal musim hujan di Jawa lebih lambat dibandingkan dengan rata-ratanya ketika terjadi El Nino dan lebih cepat dari rata-ratanya ketika terjadi La Nina (Hamada, 1995). El Nino sangat mempengaruhi curah hujan pada saat musim peralihan dari musim kemarau ke musim hujan di Indonesia (Mulyana, 2002). Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun. La Nina merupakan kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut di daerah tersebut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya). La Nina secara umum akan menyebabkan curah hujan di Indonesia bertambah.

Seiring dengan penelitian intensif yang terus dilakukan terhadap fenomena ini, akhirnya diketahui bahwa sebenarnya fenomena El Nino/La Nina bukanlah sebuah fenomena lokal yang hanya terjadi di Peru dan Ekuador saja, tetapi mencakup suatu areal yang sangat luas di Samudera Pasifik dekat ekuator (tropis).

El Nino biasanya disertai dengan perubahan sirkulasi di atmosfer yang dikenal sebagai Osilasi Selatan. Maka dari itu para ahli sering menyebut istilah El Nino dengan sebutan ENSO yaitu El Nino Southern Oscillation. ENSO merupakan salah satu sumber utama variablitas antar-tahunan (interannual) musim dan iklim di dunia. Berdasarkan hasil penelitian yang sangat intensif diketahui bahwa fenomena ini terjadi karena adanya interaksi antara laut dan atmosfer. Oleh karenanya para peneliti iklim di dunia berusaha untuk dapat meramalkan kejadian El Nino ini, meskipun hingga saat ini hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna.

Istilah Osilasi Selatan sendiri pertama kali diberikan oleh seorang ilmuwan bernama Sir Gilbert Walker pada tahun 1928 (terdapat di Walker, G.T., 1928: World WeatherMonthly Weather Review56, 167-170). Awalnya, beliau yang menjabat sebagai direktur jenderal pada sebuah observatorium di India (1904) melakukan sebuah penelitian untuk dapat meramalkan variasi monsun dan kaitannya dengan kekeringan di India. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengolahan data tekanan udara di atas permukaan laut, temperatur udara, curah hujan dan lain-lain dari hasil pengamatan beberapa dekade di seluruh negara koloni kekuatan Eropa pada waktu itu. Dari hasil pengolahan tersebut diperoleh bahwa terdapat sebuah pola yang hampir sama, yaitu adanya hubungan antara medan tekanan di daerah tropis dengan tekanan tinggi di Samudera Pasifik Selatan bagian tengah dan tekanan udara yang rendah di Australia, Asia Tenggara dan India Tengah serta Afrika Selatan dan Amerika Selatan.

Banyak sekali peneliti yang telah melakukan penelitian tentang kedua fenomena tersebut (El Nino dan osilasi Selatan) seperti Sverdrup dkk.(1942), namun baru pada tahun 1966 Bjerkness mampu menjelaskan secara lebih terperinci keterkaitan antara El Nino dan Osilasi Selatan. Dikatakannya bahwa tekanan udara di atas permukaan laut rendah pada saat Indeks Osilasi Selatan (IOS) tinggi, atau terdapat sebuah korelasi/keterkaitan yang negatif di wilayah timur hingga ke barat Samudera Pasifik, Samudera Hindia dan juga Samudera Atlantik Selatan bagian tengah.

Mungkin ada di antara anda yang bertanya: “apakah gerangan Indeks Osilasi Selatan (IOS)?” IOS adalah sebuah indeks yang diperoleh dari perbedaan harga tekanan udara di atas permukaan laut antara Tahiti dan Darwin. Harga IOS yang negatif mengindikasikan adanya El Nino sedangkan IOS yang positif mengindikasikan adanya La Nina. Nilai negatif ini disertai dengan terjadinya SPL yang hangat (anomali positif) di Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur yang diakibatkan oleh melemahnya angin pasat Pasifik dan berkurangnya curah hujan di bagian timur dan utara Australia, termasuk Indonesia. Sedangkan nilai IOS yang positif disertai dengan terjadinya SPL yang dingin (anomali negatif) di Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur yang diakibatkan oleh menguatnya angin pasat Pasifik dan meningkatnya curah hujan di bagian timur dan utara Australia, termasuk Indonesia.

ENSO (El Nino Southern Oscillation)

sumber: enso

El Nino (Gambar 1) akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal. Pembentukan El Nino dikaitkan dengan pola sirkulasi samudera pasifik yang dikenal sebagai osilasi selatan sehingga disebut juga El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang merupakan fenomena yang ditimbulkan oleh interaksi laut-atmosfer. El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Equator atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Pada saat yang bersamaan terjadi perubahan pola tekanan udara yang mempunyai dampak sangat luas dengan gejala yang berbeda-beda, baik bentuk dan intensitasnya. Fenomena El Nino secara umum akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, besar pengurangannya tergantung dari lokasi dan intensitas El Nino tersebut. Namun demikian, karena luasnya wilayah Indonesia serta posisi geografisnya yang dikenal sebagai negara maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Pada tahun normal, tekanan permukaan rendah berkembang di wilayah utara Australia dan Indonesia dan tekanan tinggi melalui sistem pantai Peru (seperti terlihat pada Gambar 2). Akibatnya, angin pasat melalui Samudera Pasifik bergerak sangat kuat dari barat ke timur. Di timur aliran angin pasat membawa permukaan air hangat ke barat, sehingga badai membawa badai konvektiv ke Indonesia dan pesisir Australia. Sepanjang pantai Peru, kolam air dingin terbawa sampai ke permukaan untuk menggantikan kolam air hangat yang diambil di sebelah barat.

Suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari biasa pada waktu-waktu tertentu, walaupun tidak selalu. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya fenomena La Nina (Gambar 3). Tekanan udara di kawasan equator Pasifik barat menurun, lebih ke barat dari keadaan normal, menyebabkan pembentukkan awan yang lebih dan hujan lebat di daerah sekitarnya.

Kejadian El Nino tidak terjadi secara tunggal tetapi berlangsung secara berurutan pasca atau pra La Nina. Hasil kajian dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali). La Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan tahun El Nino. La Nina mengikuti El Nino hanya terjadi 4 kali dari 15 kali kejadian sedangkan yang mendahului El Nino 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La Nina setelah El Nino tidak begitu besar. Kejadian El Nino 1982/83 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El Nino yang kuat tidak diikuti oleh La Nina.

DAFTAR PUSTAKA

http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/enso.html

http://www.dirgantara-lapan.or.id/moklim/edukasi0609enso.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s